Bapperida Demak Dorong Pemanfaatan Hasil Riset Untuk Perkuat Kebijakan Pembangunan

Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Demak terus memperkuat ekosistem riset dan inovasi agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi dapat dimanfaatkan secara nyata dalam perumusan kebijakan dan pembangunan daerah.

Upaya tersebut terungkap dalam kegiatan seminar diseminasi hasil penelitian dan penguatan ekosistem riset dan inovasi Kabupaten Demak Tahun 2026 yang bertempat di ruang pertemuan Bapperida Kabupaten Demak, Selasa (13/10/26)

Kepala Bapperida Kabupaten Demak Masbahatun Ni’amah menyampaikan, bahwa penelitian harus mampu menjawab persoalan daerah, menghasilkan rekomendasi aplikatif, dan memberikan dampak nyata bagi pemerintah maupun masyarakat.

“Penelitian tidak berhenti setelah laporan selesai ditulis, yang paling penting adalah bagaimana hasil penelitian tersebut dapat dimanfaatkan dan memberikan dampak nyata bagi pembangunan,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa perencanaan pembangunan yang berkualitas membutuhkan data dan informasi yang akurat, relevan, serta dapat dipertanggungjawabkan. Sumbernya tidak hanya berasal dari kajian yang dibiayai APBD, tetapi juga dari penelitian mandiri, perguruan tinggi, akademisi, peneliti, dan inovator masyarakat.

Disampaikan, Bapperida Kabupaten Demak telah mendorong pengembangan riset dan inovasi melalui kajian, lomba penelitian, penyusunan policy paper, diseminasi hasil penelitian, kompetisi dan inkubasi inovasi, serta fasilitasi hak kekayaan intelektual (HKI).

Sementara paparan Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Kabupaten Demak Amir Mahmud menerangkan, Dalam tiga tahun terakhir, tercatat 89 proposal penelitian telah diajukan, dengan lebih dari 50 persen lolos verifikasi.
“ Potensi ini perlu diarahkan agar penelitian semakin relevan dengan kebutuhan dan prioritas pembangunan daerah,” Ungkap Amir

Ke depan, orientasi riset dan inovasi perlu bergeser dari activity-oriented menuju impact-oriented, yakni tidak sekadar mengukur jumlah kegiatan atau dokumen yang dihasilkan, tetapi juga dampaknya terhadap penyelesaian persoalan daerah, peningkatan kualitas pelayanan publik, penguatan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat.

Untuk mendukung upaya tersebut, pada 2026 direncanakan pengembangan repositori penelitian terpusat sebagai sarana dokumentasi, publikasi, dan pemetaan hasil penelitian berdasarkan isu prioritas, seperti pertanian, kemiskinan, pelayanan publik, ekonomi daerah, dan lingkungan.

“ Mulai tahun ini, harus ada policy mapping (pemetan kebijakan) berdasarkan isu prioritas, oleh karena itu hasil penelitiannya pun nanti kita akan petakan mana yang mendukung sektor pertanian misalnya, sehingga nanti betul-betul pemanfaatan hasil riset itu sesuai dengan kebutuhan,” Kata Amir

Ditambahkannya, Pemanfaatan hasil penelitian juga membutuhkan kolaborasi sistematis antara komunitas peneliti dan organisasi perangkat daerah (OPD). Hasil kajian perlu diidentifikasi, diverifikasi, dan dipetakan berdasarkan prioritas pembangunan, kemudian ditindaklanjuti melalui penyusunan rekomendasi dan penerapannya dalam program pemerintah. (red-kmf/nin)

Bagikan

You might also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *