Dokter Anak Imbau Orang Tua Lindungi Anak dari Dampak Abu Vulkanik

DEMAK – Paparan abu vulkanik dapat berdampak terhadap kesehatan setiap orang. Apalagi terhadap anak terutama pada kulit, mata, dan saluran pernapasan. Karena itu, orang tua diminta meningkatkan perlindungan terhadap anak ketika berada di wilayah yang terdampak abu vulkanik.

Jika anak mengalami sesak napas, napas semakin cepat, terdapat tarikan dinding dada ke dalam, atau saturasi oksigen di bawah 94 persen berdasarkan oksimeter jari, orang tua dianjurkan segera membawa anak ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan.

dr. Ariawan Setiadi, Sp.A, Dokter Spesialis Anak yang praktik melayani pasien di RSUD Sunan Kalijaga Demak dan RSUD Sultan Fatah Demak, menyampaikan imbauan kepada orang tua terkait perlindungan anak dari dampak abu vulkanik.

Imbauan mengacu pada referensi dan edukasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengenai perlindungan anak dari abu vulkanik. IDAI menyebutkan bahwa anak lebih sensitif terhadap paparan abu vulkanik karena frekuensi napas anak lebih tinggi, anak lebih aktif, serta lebih sering bernapas melalui mulut sehingga penyaringan partikel polutan menjadi kurang optimal.

Menurut dr. Ariawan, hal pertama yang perlu dilakukan adalah menjauhkan anak dari lokasi yang terkena dampak letusan, terutama wilayah yang mulai dipenuhi abu vulkanik.

Apabila kondisi mengharuskan anak tetap berada di rumah, orang tua dianjurkan memastikan rumah dalam kondisi tertutup rapat untuk mengurangi masuknya abu vulkanik ke dalam ruangan.

“Ketika terjadi paparan abu vulkanik, anak sebaiknya tidak berada di lokasi yang terdampak. Jika harus berada di rumah, pastikan kondisi rumah tertutup dan paparan abu diminimalkan,” kata dr. Ariawan. Saat dihubungi melalui pesan WhatsApp. Rabu, (9/9/2026).

Pembersihan / Antisipasi

Saat melakukan pembersihan rumah, anak juga harus dijauhkan dari aktivitas tersebut. Jika membersihkan area yang terkena abu, orang tua dianjurkan menggunakan lap atau kain basah maupun membasahi lantai dan benda yang terkena abu dengan air, sehingga debu tidak kembali beterbangan.

Selanjutnya, perangkat yang menghisap udara dari luar masuk ke dalam rumah, seperti AC, sebaiknya dimatikan atau diatur pada mode “air recirculation/closed vent”. Dan Jangan menyalakan kipas angin karena dapat membuat abu/debu yang sudah mengendap kembali beterbangan di udara.

Untuk perlindungan saluran pernapasan, anak berusia lebih dari dua tahun dapat menggunakan masker khusus anak. Masker harus terpasang dengan baik dan orang tua perlu mengajarkan anak cara menggunakan masker secara benar.

Selain saluran pernapasan, mata dan kulit anak juga perlu dilindungi. Orang tua dapat memberikan pelindung mata berupa kacamata anak serta mengenakan pakaian tertutup untuk mengurangi paparan abu vulkanik secara langsung pada kulit sensitif anak.

Anak sebaiknya mengenakan pakaian tertutup untuk mengurangi paparan abu vulkanik secara langsung pada kulit.

Bagi anak yang memiliki riwayat asma atau alergi saluran pernapasan, orang tua diimbau menyiapkan obat-obatan rutin sesuai anjuran dokter.

Anak juga harus dijauhkan dari polusi asap tambahan di dalam rumah, seperti asap rokok maupun asap rumah tangga, karena dapat memperburuk kualitas udara dan kondisi saluran pernapasan.

“Pastikan anak juga mendapatkan cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi,” tambahnya.

Orang tua juga diminta tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan pada anak. Apabila anak mengalami keluhan setelah terpapar abu vulkanik, segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan. IDAI juga mengingatkan bahwa gangguan saluran napas akibat paparan abu vulkanik dapat menjadi serius, terutama pada anak yang sebelumnya memiliki alergi saluran napas, bronkitis, asma, penyakit jantung bawaan, atau kelainan paru. (Red-kmf/apj).

Bagikan

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *