Pemerintah Pusat Serius Tangani Permasalahan Pesisir Pantura Jawa, Termasuk Timbul Sloko Sayung

Pemerintah Pusat Serius Tangani Permasalahan Pesisir Pantura Jawa, Termasuk Timbul Sloko Sayung

 

Demak- Kawasan pantai utara jawa beberapa dekade telah mengalami penurunan muka tanah ( land subsidence) serta tekanan pembangunan dan perubahan iklim. Dari faktor tersebut memicu abrasi dan banjir rob yang menyebabkan perubahan garis pantai secara signifikan. Kondisi ini berdampak pada masyarakat pesisir baik segi sosial kemasyarakatan maupun segi ekonomi.

 

Salah satu wilayah pesisir yang mendapat perhatian pemerintah pusat yakni desa Timbulsloko kecamatan Sayung kabupaten Demak. Sebab Desa Timbulsloko menjadi salah satu kawasan yang terdampak parah. Dari data laju abrasi rata-rata disebut mencapai 279 meter per tahun, tertinggi di kawasan Pantura Jawa.

Kemudian penurunan muka tanah di sebagian wilayah Sayung mencapai 10–20 sentimeter per tahun. Sehingga berakibat ribuan hektare tambak, permukiman, dan kawasan mangrove terdampak kerusakan serta kehilangan daratan.

Selain itu rob dan banjir sungai yang terjadi bersamaan memperparah kondisi lingkungan dan kehidupan warga.

 

Perubahan Timbulsloko berlangsung selama beberapa dekade. Wilayah yang dahulu didominasi sawah, kebun, tambak, dan mangrove perlahan kehilangan daratan akibat abrasi, genangan rob, dan penurunan muka tanah

 

AHY Tanam Mangrove

 

Keseriusan pemerintah pusat ditunjukan dengan kehadiran Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang datang di desa Timbulsloko pada awal pekan ini, Senin (19/10/26). Selain melihat langsung penanganan abrasi extrims pantura jawa dirinya juga mendorong penguatan solusi berbasis alam (Nature-Based Solutions/NbS) . Sebagai bagian dari upaya melindungi kawasan pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa.

Salah satunya melalui penanaman mangrove yang dipadukan dengan teknologi perlindungan pantai untuk meredam gelombang, mengurangi abrasi, dan menjaga keberlangsungan hidup masyarakat pesisir.

 

Komitmen tersebut ditandai dengan kegiatan penanaman mangrove di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung. Kegiatan ini merupakan bagian dari program perlindungan pesisir Pantura Jawa yang mengintegrasikan pendekatan berbasis alam dengan pembangunan infrastruktur fisik. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ) dalam mendorong pengelolaan perlindungan pesisir secara terpadu. Di bawah koordinasi Dewan Pengarah yang diketuai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, BOPPJ berperan mendukung sinkronisasi perencanaan, koordinasi pelaksanaan lintas sektor, serta pemantauan dan evaluasi program perlindungan Pantura Jawa sesuai dengan tugas, fungsi, dan kewenangannya.

 

Lokasi Demplot

 

Pesisir Desa Timbulsloko ditetapkan sebagai lokasi percontohan ( Demonstration Plot) dalam program penanganan darurat wilayah pesisir. Hasil penerapan ini akan menjadi dasar perluasan Hybrid NbS. Adalah Program Nature-Based Solutions (NbS) , merupakan langkah perlindungan pesisir Pantai Utara Jawa yang menggabungkan pemulihan ekosistem mangrove dan pembangunan struktur pemecah gelombang.

 

Program ini merupakan sinergi multi pihak antara kementrian / lembaga Swadaya Masyarkat, serta partisipasi aktif masyarakat Sayung. Masyarakat Timbulsloko dilibatkan sebagai pelaku utama perlindungan pesisir, bukan sekadar penerima manfaat. Keterlibatan warga dalam pembuatan dan pemasangan HexBRIck diharapkan memberikan manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan keterampilan teknis dan rasa memiliki terhadap program. (Red-kmf/ist/apj).

Bagikan

You might also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *