Petani Harus Berjuang Mendapatkan Air

 

Demak – Di tengah upaya pemerintah mengatasi kekeringan, kondisi berbeda dirasakan langsung oleh para petani di lapangan. Salah satunya Subkhi, petani di Desa Jogoloyo, Kecamatan Wonosalam.

Subkhi menggarap sawah sewaan seluas sekitar 1.000 meter persegi yang saat ini ditanami padi berusia sekitar satu bulan. Minimnya pasokan air membuatnya harus mencari berbagai cara agar tanaman tetap bisa bertahan.

Air dari saluran pembuangan permukiman, termasuk dari kawasan perumahan dan pondok, ditampung terlebih dahulu di kubangan yang dibuat secara mandiri. Air tersebut kemudian dipompa menuju lahan persawahan.

Tak hanya itu, Subkhi juga harus mengoperasikan mesin diesel untuk menyedot air. Bahkan, dalam kondisi tertentu ia rela bermalam di sawah demi memastikan pasokan air untuk tanaman tetap berjalan.

“Masalahnya air, kurang. Air buangan dari kampung, perumnas dan pondok saya tampung di kubangan. Kalau normal sekitar Rp20 juta sudah termasuk pupuk sampai panen. Sekarang mulai tandur dan memupuk saja sudah Rp40 juta, kalau ditotal dengan tenaga dan lainnya sekitar Rp50 juta lebih,” katanya, beberapa waktu lalu.

Menurut Subkhi, persoalan air semakin berat karena suhu panas yang cukup ekstrem. Kondisi tersebut membuat sebagian tanaman padi mengalami kerusakan akibat tidak mendapatkan pengairan secara optimal.

Kondisi serupa juga dirasakan Ahmad Husein, petani lainnya. Untuk mendapatkan pasokan air, ia harus mengatur jadwal penyedotan secara bergantian dengan petani lain.

Menurutnya, jika sejumlah petani menyedot air secara bersamaan, debit air akan cepat berkurang.

“Kalau menyedot bersama-sama, airnya cepat habis. Kalau bergantian dua atau tiga orang masih lancar,” ujarnya.

Persoalan lain yang turut membebani petani adalah keterbatasan modal. Untuk memenuhi kebutuhan pupuk, Husein bahkan terpaksa berutang kepada toko pertanian.

Tidak semua lahan yang digarapnya juga bisa ditanami padi. Sebagian lahan terpaksa dibiarkan karena sulit mendapatkan pasokan air.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman kekeringan tidak hanya berdampak pada keberlangsungan tanaman, tetapi juga meningkatkan biaya produksi dan beban yang harus ditanggung petani untuk mempertahankan lahan mereka hingga masa panen. (Red-kmf/apj).

Bagikan

You might also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *