Demak — Program SIDAYA atau Lansia Berdaya menjadi salah satu program prioritas nasional Kemendukbangga/BKKBN untuk mewujudkan lansia yang sehat, aman, mandiri, dan tetap aktif sesuai minat serta potensinya.
Yang merupakan pengembangan dari program Bina Keluarga Lansia (BKL) yang telah berjalan.
Program ini mencakup empat layanan utama, yakni penguatan BKL, Sekolah Lansia, pemeriksaan kesehatan, serta pengembangan Kartu Lansia untuk mempermudah akses terhadap layanan kesehatan, transportasi, dan pelayanan publik.
Hal tersebut disampaikan Ketua Tim Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga Dinpermades P2KB Kabupaten Demak, Diana Islamawati, saat menjadi narasumber dalam program talkshow di RSKW FM, Jumat (11/9/2026).
Diana mengatakan, salah satu program yang dikembangkan melalui SIDAYA adalah Sekolah Lansia berupa pendidikan nonformal yang dilaksanakan di kelompok BKL dengan tujuan mewujudkan lansia yang SMART dan tangguh berdasarkan tujuh dimensi lansia tangguh.
“Peserta Sekolah Lansia merupakan warga berusia 60 tahun ke atas. Sebelum mengikuti pembelajaran, calon peserta menjalani penapisan menggunakan ADL (Aktivitas Kehidupan Sehari-hari Dasar) dan IADL (Aktivitas Kehidupan Sehari-hari Instrumental) untuk mengetahui tingkat kemandirian dalam menjalankan aktivitas sehari-hari,” jelas Diana.
Menurutnya, lansia dengan skor ADL 12–20 dapat langsung mengikuti Sekolah Lansia. Sementara lansia dengan skor ADL 0–11 membutuhkan pendampingan perawatan jangka panjang terlebih dahulu.
Sekolah Lansia juga memiliki tiga standar pembelajaran. Standar pertama berfokus pada manfaat bagi diri sendiri, standar kedua bagi keluarga, dan standar ketiga bagi masyarakat atau komunitas.
Pembelajarannya berlangsung selama enam hingga 12 bulan untuk setiap standar, dengan 12 kali pertemuan. Metode pembelajaran dilakukan secara tatap muka melalui ceramah, diskusi, praktik, hingga role play.
Tersedia Tiga Lokasi
Koordinator Balai Penyuluhan KB Kecamatan Bonang, Anggraeni Pravitasari, mengungkapkan bahwa Sekolah Lansia di Kabupaten Demak saat ini baru dirintis di tiga kecamatan, yakni Bonang, Karangtengah, dan Demak.
Ketiga wilayah tersebut menjadi percontohan sebelum program diperluas ke 11 kecamatan lainnya.
“Sekolah Lansia telah menggelar dua kali wisuda. Pada 2023, sebanyak 80 lansia diwisuda, kemudian pada 2024 sebanyak 60 lansia. Total 140 lansia telah menyelesaikan pendidikan Sekolah Lansia,” ungkap Anggraeni.
Namun, cakupan tersebut masih belum merata mengingat Kabupaten Demak memiliki 14 kecamatan. Untuk keberlanjutan program, saat ini tengah diupayakan dukungan pendanaan dari APBD.Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas pelaksanaan Sekolah Lansia ke kecamatan-kecamatan lainnya.
Anggraeni menambahkan, desa yang ingin mengusulkan pembentukan Sekolah Lansia dapat berkoordinasi dengan Balai Penyuluhan KB di kecamatan masing-masing. Syarat utamanya adalah telah memiliki kelompok BKL yang aktif. Selanjutnya, penyuluh KB akan membantu proses pengusulan, pemetaan sasaran lansia, serta penapisan ADL dan IADL calon peserta. (red-kmf/nin)
