Demak – Desa Banjarsari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak di tetapkan sebagai salah satu desa percontohan program Desa Mandiri Peduli Mangrove (DMPM) tahun 2026. Oleh kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Penetapan ini berdasarkan keberhasilan masyarakat Banjarsari dalam program konservasi mangrove secara mandiri di tengah ancaman rob dan abrasi pesisir. Jumat (9/10/26).
Pandji Dimas, dari Tim DMPM KLH, menyampaikan Banjarsari memiliki modal sosial yang kuat. Model pemberdayaan berbasis masyarakat di Banjarsari dinilai paling ideal karena melibatkan perempuan pesisir, pemuda karang taruna, dan petani tambak.
“Desa Banjarsari kami jadikan role model nasional. Bukan karena luas tanamannya, tapi karena masyarakatnya bergerak sendiri. Dari pembibitan, penanaman, hingga ekowisata mangrove dikelola oleh warga. Ini esensi DMPM yang sebenarnya,” jelas Pandji.
Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, Banjarsari kehilangan ratusan hektar tambak akibat abrasi. Namun kondisi tersebut justru memicu gerakan masyarakat yang tergabung dalam Gerdadu Peduli Lingkungan Demak untuk melakukan penanaman dan perawatan mangrove secara masif.
Kepala Desa Banjarsari, Haryanto, menyambut baik pengukuhan tersebut. Ia mengatakan program DMPM KLH menjadi pengungkit semangat warga untuk lebih peduli lingkungan.
“Kami berterima kasih kepada Kementerian Lingkungan Hidup. Program DMPM ini menjadi penyemangat kami. Mangrove kami jaga untuk menyelamatkan Bumi Banjarsari,” kata Haryanto.
Haryanto menambahkan, Banjarsari saat ini tidak hanya fokus pada mangrove. Desa yang tercatat memiliki Indeks Desa Terendam tertinggi di Demak ini juga mengembangkan inovasi lain untuk bertahan hidup.
Sosialisasi dan pengukuhan Desa Mandiri Peduli Mangrove digelar di Balai Desa setempat. Di Hadiri Tim DMPM Kementerian Lingkungan Hidup Jakarta, perwakilan Pusda Jawa, akademisi dari Unissula Semarang, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Demak, dan Dinas Pariwisata Kabupaten Demak. (Red/kmf/ist-apj)
