Demak dan Semarang Disiapkan Jadi Percontohan Penurunan Stunting di Jawa Tengah

Semarang – Pemerintah Kabupaten Demak dan Semarang disiapkan menjadi role model atau contoh bagi daerah lain setelah berhasil mererapkan prevalensi stunting mencapai sekitar dua persen.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat Rat Koordinasi Teknis dan Advokasi Pencegahan dan percepatan Penurunan Stunting Regional Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara di Hotel Novotel, Selasa (22/09/26).

Sejumlah kabupaten masih mencatat angka stunting cukup tinggi. Di antaranya Kabupaten Wonosobo sebesar 18,05 persen, Purworejo 16,62 persen, Banjarnegara 16,24 persen, Kabupaten Magelang 15,82 persen, dan Kabupaten Tegal 15,59 persen. Sementara itu, Kabupaten Demak dan Kabupaten Semarang tercatat mampu menekan prevalensi stunting mencapai sekitar 2 persen.

Melihat adanya kesenjangan tersebut, Ahmad Luthfi meminta seluruh pemerintah daerah tidak segan belajar dari wilayah yang telah berhasil menurunkan angka stunting dengan menerapkan metode Amati, Tiru, dan Modifikasi (ATM) terhadap langkah-langkah yang telah dilakukan Kabupaten Demak dan Kabupaten Semarang.

“Seluruh daerah saya minta agar belajar dengan Demak dan Semarang,” tegas Luthfi di hadapan peserta rakor.

Terpisah, Bupati Demak Eisti’anah mengatakan, keberhasilan penanganan stunting di Kabupaten Demak merupakan hasil kolaborasi lintas perangkat daerah. Menurutnya, stunting tidak dapat ditangani oleh satu atau dua perangkat daerah saja karena penyebabnya dipengaruhi oleh berbagai faktor.

“Pemerintah Kabupaten Demak memberikan instruksi kepada seluruh OPD untuk bersama-sama melakukan intervensi. Stunting ini bukan tugas satu atau dua perangkat daerah, tetapi merupakan tugas bersama karena penyebabnya tidak hanya berkaitan dengan faktor kesehatan,” ujar Eisti’anah.

Ia menjelaskan, Pemkab Demak juga melakukan sejumlah intervensi spesifik, salah satunya melalui kerja sama dengan Kementerian Agama dalam mempersiapkan calon pengantin. Upaya tersebut dilakukan sejak sebelum pernikahan, termasuk melalui pemberian tablet tambah darah kepada remaja sebagai bagian dari pencegahan stunting sejak dini.

Selain itu, sejumlah program intervensi juga dilakukan oleh berbagai perangkat daerah sesuai dengan tugas dan kewenangannya. Di antaranya intervensi di bidang sanitasi oleh Dinperkim dan sosialisasi mengenai gerakan gemar makan ikan sebagai salah satu upaya mendukung pemenuhan gizi masyarakat oleh Dinlutkan.

“Jadi, kami melakukan intervensi secara kolaboratif. Masing-masing OPD memiliki peran sesuai dengan tugasnya untuk bersama-sama mencegah dan menurunkan stunting di Kabupaten Demak,” pungkasnya. (red-kmf/ist)

Bagikan

You might also like

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *